Postingan

HUKUM CAMBUK

Gambar
Mata ayah memerah. Sekuat tenaga ditahannya emosi yang membadai di dadanya. Bibirnya masih terkatup. Sekali-kali kepalan tangan diremasnya kuat-kuat. Pandangan ayah tak lagi ke Mbak Yuni. Mbak Yuni masih bersimpuh lemah menundukkan wajahnya dalam-dalam. Air mata yang membanjir menemani isak di dadanya. Kami semua sibuk dengan emosi kami masing-masing. Ibu sedikit-sedikit menyapu air mata yang terus menetes di pipinya. Aku bisa membayangkan bagaimana perasaan ibu . Ibu tidak hanya sedih, sesak, juga kecewa.             Mbak Yuni, kakakku yang satu ini sudah tiga tahun tidak pulang ke rumah. Dari kami berempat dialah yang paling keras sifatnya. Mbak Yuni anak kedua di keluargaku. Sebelum Mbak Yuni, ada Mas Bagus, di bawah Mbak Yuni ada Mas Purwanto dan terakhir aku. Mas Bagus sudah menikah dan sekarang tinggal di Surabaya dengan keluarganya. Mas Purwanto sekarang bekerja di Jakarta. Di rumah hanya ada aku yang menjaga ayah dan ibu...

KAUL AYAH DI AWAL RAMADHAN

Gambar
Alhamdulillah. Akhirnya aku bisa bernapas lebih lega. Semua kewajiban kampus yang harus rampung menjelang liburan Ramadhan sudah kutuntaskan. Setidaknya aku bisa tenang menjalani shoum Ramadhanku saat liburan nanti di rumah, di kampung halamanku tercinta. Kurapikan beberapa barang yang kan kubawa liburan nanti. Satu tas tidak terlalu besar cukuplah. Aku tak mungkin membawa semua barangku, toh liburan Ramadhan hanya dua minggu. Dua minggu itu akan benar-benar kumanfaatkan dengan kegiatan liburan. Itu artinya aku akan istirahat dari paper-paper dan diktat-diktat tebal yang kini tersusun rapi di sudut meja belajarku. Meski hanya untuk sementara, buatku cukuplah membuat rileks otot-otot yang menyerabut di otakku. Sembari menyesap secangkir teh manis hangat ditemani emping manis kiriman emakku dua minggu lalu, kubaca lagi surat kiriman ayah. Surat yang ayah kirim bersama emping manis buatan pabrik milik keluargaku. Padahal ayahku bisa saja mengirimkan SMS kepadaku. Ya, begitulah ay...

PELARIAN PIAH

Gambar
Tinggal seminggu lagi masa cuti dari kantor sebelum aku kembali berjibaku pada rutinitas harianku. Sampai detik ini aku masih belum juga mendapatkan seseorang yang akan membantuku. Meski ada ibu, aku takkan bisa menyerahkan bayi kecilku pada ibu seorang di rumah. Sampai detik ini aku masih belum juga mendapatkan seseorang yang akan membantuku. Kalau kemarin-kemarin itu bukan persoalan bagiku. Aku merasa cukup mampu mengerjakan semua pekerjaan rumah dan pekerjaan kantor. Kalau sekarang? Aku benar-benar mengalah. Saat ini ada bayi kecilku yang membutuhkan   perhatian. Tak mungkin kukerjakan semua sendiri. Membayangkannya sepertinya aku takkan sanggup menjalani dua peran ini dengan maksimal. Aku sudah mencoba mencari khadimat yang siap membantuku dan ternyata itu bukanlah persoalan mudah. Sekarang aku baru mengerti bagaimana perasaan Reni, teman kantorku, yang sering gonta-ganti pembantu lantaran berbagai sebab. Atau bagaimana bingungnya Bu Lia yang kerepotan tatkala pembantu...