HUKUM CAMBUK
Mata ayah memerah. Sekuat tenaga ditahannya emosi yang membadai di dadanya. Bibirnya masih terkatup. Sekali-kali kepalan tangan diremasnya kuat-kuat. Pandangan ayah tak lagi ke Mbak Yuni. Mbak Yuni masih bersimpuh lemah menundukkan wajahnya dalam-dalam. Air mata yang membanjir menemani isak di dadanya. Kami semua sibuk dengan emosi kami masing-masing. Ibu sedikit-sedikit menyapu air mata yang terus menetes di pipinya. Aku bisa membayangkan bagaimana perasaan ibu . Ibu tidak hanya sedih, sesak, juga kecewa. Mbak Yuni, kakakku yang satu ini sudah tiga tahun tidak pulang ke rumah. Dari kami berempat dialah yang paling keras sifatnya. Mbak Yuni anak kedua di keluargaku. Sebelum Mbak Yuni, ada Mas Bagus, di bawah Mbak Yuni ada Mas Purwanto dan terakhir aku. Mas Bagus sudah menikah dan sekarang tinggal di Surabaya dengan keluarganya. Mas Purwanto sekarang bekerja di Jakarta. Di rumah hanya ada aku yang menjaga ayah dan ibu...